Sambutan Kakankemenag Selayar Pada Acara Baznas Kabupaten

  • Sept. 15, 2021, 5:14 p.m.

-

 

Atas nama Kepala Kantor Kementerian Agama Kepulauan Selayar menyambut dengan baik acara penting yang kita laksanakan pada hari ini. Ini adalah acara yang sangat penting karena kita semua akan berdiskusi tentang sesuatu yang sangat penting, sesuatu itu adalah terkait dengan kemaslahatan ratusan dan bahkan ribuan orang fakir dan miskin di tengah-tengah kita. Sekedar memenuhi kebutuhan hidup mereka tentunya tidaklah serumit ketika kita sudah mencoba berdiskusi untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan yang menjerat kemudian hidup menjadi seorang muzakki serta kemudian membuat gerakan bersama dalam menyantuni beberapa fakir miskin; menyantuni kebutuhan sandang pangan mereka, pendidikan mereka, dan lain-lain sebagainya. Subhanallah.

Semua itu bukanlah impian dan bukan pula sekedar angan-angan. Dalam sejarah keemasan islam, masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, Khalifah kedelapan dari Bani Umayyah yang hanya memerintah tidak lebih dari tiga puluh bulan, kita semua telah mendapatkan satu fragmen yang luar biasa dalam pengelolaan zakat sehingga mampu membuat baitul mal, perbendaharaan negara menjadi kaya karena tidak lagi ditemukan mustahiq di jalan-jalan, dan yang ada di seluruh kota hanyalah muzakki yang berlomba-lomba mengeluarkan zakat, infaq, dan sedekah mereka. Subhanallah

Dari beberapa pembacaan literatur, kita dapatkan beberapa instrument penting yang menjadi penopang dari kesuksesan beliau mengelola negara dan baital mal.

1.   Integrasi managemen zakat oleh negara

Pada dasarnya zakat adalah ibadah kemasyarakatan yang berkaitan langsung dengan ekonomi keuangan, sosial kemasyarakatan dan pemerintahan. Dengan posisinya sebagai ibadah kemasyarakatan, zakat bukanlah masalah pribadi yang pelaksanaannya diserahkan hanya atas kesadaran pribadi masing-masing atau hanya terbatas kepada tugas ulama dan pengelola zakat
saja. Akan tetapi masalah zakat harus menjadi perhatian dari perbagai kalangan, termasuk di dalamnya lembaga keuangan dan pemerintah.

Zakat merupakan salah satu instrumen utama pendapatan dan fiskal
negara sejak masa nabi Muhammad SAW sampai pada masa-masa pemerintahan
kekhalifahan Islam setelahnya. Pada masa nabi Muhammad SAW, kewajiban mengeluarkan zakat dari agniya (orang-orang kaya), dikontrol langsung olehnya. Sehingga
praktek pengelolaan zakat berjalan dengan baik sesuai dengan tuntutan
syariat. Zakat yang dikumpulkan dari muzakki langsung dibagikan kepada
mustahik. Kalaupun ada yang disimpan jumlahnya tidak banyak. Sehingga
manfaat zakat dapat dirasakan langsung oleh mustahik saat itu juga.

2.       Selektif dalam memilih amil

Setelah menjadi khalifah, hal pertama yang dilakukan Umar bin Abdul
Aziz adalah memberhentikan dan menurunkan amil zakat, pejabat-pejabat dan pegawai yang tidak kompeten, tidak profesional, berkhianat, zalim, dan berperilaku buruk kepada rakyat. Umar telah menurunkan Usamah bin Zaid At-Tanukhy dari amil zakat di Mesir, Muhammad bin Yusuf saudara Al-Hajjaj gubernur Yaman, Yazid bin Abi Muslim dari gubernur Afrika Utara, Harist bin Abdurrahman dari gubernur Andalus.

Di sisi lain Umar bin Abdul Aziz kemudian menunjuk dan mengangkat amil seperti Ibnu Jahdam, dan pejabat serta pegawai negara lain secara adil dan profesional. Umar memilih mereka berdasarkan kualifikasi pendidikan, keilmuan dan kemampuan mereka tanpa melihat keturunan dan suku.

Yang menjadi masalah sekarang di Indonesia  adalah masih adanya LAZ yang enggan bersinergi dengan BAZNAS, meskipun banyak juga yang sudah bersinergi. Di samping itu masih banyaknya pegawai (bukan anggota) yang notabene menjadi ujung tombak, baik di BAZNAS pusat maupun di BAZNAS daerah yang masih belum diambil dari lulusan atau jurusan zakat, sehingga mereka kurang memiliki motivasi dan inovasi dalam mengelola zakat. Sungguh sangat ideal apabila keberhasilan UU No 23 tahun 2011 di MK diikuti dengan sinergisasi dan perbaikan SDM yang lebih baik.

 

3.   Perluasan obyek zakat

Umar bin Abdul Aziz telah memperluas objek zakat. Tidak hanya objek-objek yang ada pada masa nabi SAW saja, akan tetapi berkembang sesuai perkembangan di zamannya. Menurutnya, zakat diambil dari orang-orang kaya dalam suatu negara dan dibagikan kepada fakir miskin mereka. Apabila harta kekayaan orang kaya tersebut telah memenuhi syarat dan mencapai nishab, maka wajib baginya mengeluarkan zakat. Diriwayatkan dari Ibnu Al-Jauzy dari Yahya bin Hamzah dari Zaid bin Wafid. Umar bin Abdul Aziz mengutus Ibnu Jahdam untuk menarik zakat bani taghlub dan diminta untuk mendistribusikan kepada kaum fakir miskin di antara mereka.

Sesungguhnya masih banyak instrument lain dan bahkan lebih penting dari yang tersebutkan di atas, di antaranya bagaimana beliau memberikan perlakuan kepada 8 (delapan) ashnaf yang disebutkan di dalam alquran. Namun yang terpenting bagi kita saat ini adalah bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pokok para mustahik, nemun lebih dari itu adalah berupaya merubah mereka dari mustahik menjadi muzakki dengan data yang real. Wallahu a’lam bisshawab. (Myr)

 

 


Sumber
Penulis : Muhammad yamril

Baca Juga