Prototipe Dalam Moderasi Beragama

  • Sept. 15, 2021, 5:17 p.m.

-

 

Pengantar

Saat ini negeri kita dilanda dengan berbagai macam pertikaian, perselisihan, dan nyaris membentuk sebuah perpecahan yang berkepanjangan. Kita belum dapat menebak kapan semua ini akan berakhir. Perbedaan agama dan kepercayaan, perbedaan jalan dan pilihan politik, perbedaan cara pandang dalam menterjemahkan sesuatu, perbedaan ormas dan juga mazhab adalah di antara bibit-bibit yang sangat berpotensi memunculkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat.

Perbedaan adalah sebuah sunnatullah yang tidak bisa terelakkan. Bahkan Alquran yang merupakan Kitab Suci ummat islam melegitimasi hal itu.

 

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

 

Artinya: "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan," (QS. Al Maidah: 48)

 

Ayat tersebut di atas menegaskan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan cara pandang serta perbedaan pilihan adalah sesuatu yang tidak dapat terelakaan. Namun demikian, di penghujung ayat itu Allah Swt. dengan tegas mengajak semua hamba-hamba-Nya, tanpa melihat perbedaan dari sisi manapun, agar semua mereka berlomba-lomba dalam melaksanakan kebajikan.

 

Karakteristik Ajaran Islam

Agama islam dengan segala konsep yang ada padanya telah teruji lebih dari 14 abad lamanya. Masa 1.400 tahun adalah sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk menguji ketahanan, keorisinilan, dan kebenaran sebuah konsep dan ajaran. Di sela-selanya telah muncul puluhan dan bahkan ratusan ajaran, namun semua hilang dan lenyap ditelan oleh dasawarsa.

Menurut beberapa ahli ilmu islam, islam memiliki beberapa karakteristik yang menyebabkan dia dapat bertahan dalam jangka yang sangat panjang bahkan sampai di akhir zaman.

  1. Ketuhanan atau Rabbaniyah: Yaitu ajaran yang sumbernya dari Allah SWT bukan dari manusia.
  2. Kemanusian atau Insânîyyah: yaitu Semua tuntunannya sesuai dengan fitrah manusia. Pengaturan yang dilakukan bertujuan untuk menjaga agar fitrah tidak membawa pada runtuhnya nilai kemanusiaan, namun tidak berlawanan.
  3. Realistis atau Al-Waqi’îyyah: Yaitu ajarannya dapat diamalkan oleh semua manusia, terlepas dari status sosial dll.
  4. Ketercakupan semua aspek atau Asy-Syumûl: Yaitu Ajarannya menyangkut segala aspek kehidupan.
  5. Tidak memberatkan atau ‘Adam Al-Haraj: Yaitu Islam bertujuan menyelamatkan manusia, bukan memberatkannya.
  6. Moderasi atau Al-Wasathîyyah: Yaitu tuntunannya bersifat pertengahan. Menjadikan kehidupan dunia untuk kebahagiaan akhirat.
  7. Kejelasan atau Al-Wudhûh: Yaitu ajarannya jelas dan logis. Tidak ada yang bertentangan dengan akal.
  8. Penahapan dan Keberangsuran atau At-Tadarruj: Yaitu ajaran Islam diturunkan secara bertahap. Diawali dengan hal yang berkaitan dengan akidah lalu persoalan hukum.
  9. Sesuai dengan semua tempat dan situasi atau Al-Khair, nilai-nilai universal, yaitu prinsip dan ketentuan berkaitan dengan fitrah dan keperluan tetap manusia, contoh kasih sayang orangtua, kebutuhan akan makanan, dan pakaian.
  10. Sedikitnya tugas-tugas keagamaan atau Qillat At-Taklîf: Yaitu islam tidak membebani manusia dengan tugas yang berat dan banyak. Semua disesuaikan dengan kemampuan manusia itu sendiri.

Jafar Bin Abi Thalib Menghadapi Raja Najasyi

Ketika kaum muslimin Mekkah telah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, Rasulullah saw. mengizinkan sebahagian umat islam untuk melakukan hijrah ke Negeri Habasyah, saat itu dipimpin oleh seorang raja yang beragama nasrani namun terkenal shalih dan bijaksana, Raja Najasyi. 

Saat menghadap Raja Najasyi, Jafar bin Abi Thalib yang ditunjuk oleh kaumnya menjadi juru bicara berkata, “Dulu, kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala. Lalu, Allah mengutus Rasul-Nya.  Kami mengenal betul kepribadian, kejujuran, dan kesucian perilakunya. Dia mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, serta meninggalkan kepercayaan nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala, Dia menyuruh kami selalu menjaga amanah, merajut silaturahim, bersikap baik terhadap tetangga, menyudahi semua perbuatan buruk dan pertumpahan darah.”

 

Raja Najasyi belum merasa puas dengan penjelasan Jafar bin Abi Thalib terkait dengan karakter agama yang dibawanya. Oleh sebab, Raja Najasyi pun bertanya terkait dengan agama nasrani yang dianutnya. Jafar Bin Abi Thalib kemudian membacakan ayat suci alquran.

 

يا أَهْلَ الْكِتابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَاّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقاها إِلى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْراً لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلهٌ واحِدٌ سُبْحانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ وَكَفى بِاللَّهِ وَكِيلاً

”Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (An Nisa : 171)

Saat mendengar itu, Raja Najasyi itu kemudian mengambil tongkatnya dan berkata, “Sungguh, perbedaan pemahaman orang Muslim dan keyakinanku tentang Yesus tidak lebih besar dari tongkat yang aku bawa ini.”

Raja Najasyi mendengarkan penjelasan dari Jafar bin Abi Thalib sambil meneteskan air mata yang terus membasahi sampai ke sela-sela janggutnya. Tidak tertinggal, para uskup yang hadir pada saat itu juga terlihat terharu dan meneteskan air mata sebagaimana Raja Najasyi.

Kesimpulan

Dalam kesimpulan ini, Kami ingin kutipkan ayat Alquran yang turun terkait dengan nasehat Allah Swt. kepada Nabiullah Musa as. saat datang menghadapi Fir’aun, Raja yang sangat zalim di zamannya.

ﵟٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ٤٣ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ ٤٤ 

”Berangkatlah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”




 

 

 


Sumber
Penulis : Muhammad yamril

Baca Juga