Penghafal Alquran Asal Kecamatan Buki Selayar, Kisahkan Rihlah Ilmiyahnya Di Turki

  • Jan. 22, 2022, 8:46 p.m.

Muhammad Imran paling depan bersama dengan para sahabatnya

 

Selayar (Humas Benteng) Muhammad Imran, putra asal Kecamatan Buki adalah anak dari pasangan Bapak Mirajuddin dan Ibu St. Salma. Mengawali rihlah ilmiyahnya di Rumah Tahfidz Babussalam Kepulauan Selayar, Pesantren Sulaemaniyah, dan pada akhirnya ditakdirkan oleh Allah Swt. menimba ilmu di Turki sejak Tahun 2020 yang lalu.

Muhammad Imran berhasil menyelesaikan hafalan Alquran di Pesantren Sulaemaniyah Sumenep dan memperdalam pelajaran Bahasa Arab dan Turkinya secara khusus saat berada di Pekalongan Jawa Timur. Walau di awalnya Muhammad Imran mengalami berbagai ujian hidup, baik saat berada di Babussalam dan juga di Sulaemaniyah Sumenep,  namun kesemuanya berakhir dengan penuh keberkahan.

Saat diwawancarai oleh seorang Staf Humas Kementerian Agama sore tadi via Vidio Call (Sabtu, 22 Januari 2022), kondisi cuaca di Turki berada pada titik minus 2 (dua) derajat celcius. Mungkin itulah yang menyebabkan sehingga kondisi badannyapun terlihat agak terganggu. Kendati demikian, wawancara dengannya tetap berjalan baik dan kondusif.

Turki sebagai negara yang dahulunya sangat sekuler, khususnya di bawah pemerintahan Kamal Ataturk, nyatanya masih menyisakan pengaruh sampai saat ini, walaupun di bawah pemerintahan Erdogan terlihat perubahan yang sangat luar biasa. Itulah sehingga ketika ditanya terkait dengan pendidikan agama, Muhammad Imran katakan bahwa di Indonesia akan jauh lebih baik dan kondusif.

Itu sangat berbeda dengan kondisi di dalam kampus Sulaemaniyah yang sangat religius. Kesehariannya diisi penuh dengan ibadah dalam artian yang luas. Shalat shubuh di Turki saat ini masuk pada Pukul 06:30. Sementara anak-anak mahasiswa sudah diwajibkan bangun sejam sebelum masuk waktu. Itu berarti mereka bangun bangun pada 05:30 untuk melakukan shalat tahajjud minimal 6 rakaat, selain dari shalat witir yang telah dilakukannya sebelum tidur atau seusai shalat isya.

Menurut Muhammad Imran, wirid pagi dibaca setelah shalat tahajjud, sedang setelah shalat shubuh mereka membaca surat yasin. Aktifitas belajar di kelas dimulai pada 08:15 dan akan berakhir sampai pada jam 22:00 atau 23:00 di malam harinya. Tidak ada jeda kecuali untuk istirahat sejenak, shalat, dan makan. Itu adalah rutinitas yang pada sebahagian orang sangat menjenuhkan, tetapi kenyataannya bagi mereka adalah sesuatu yang membahagian. Mungkin itulah yang melatarbelakangi munculnya sebuah buku yang berjudul ”kumpulan orang-orang yang lebih mementingkan menuntut ilmu dari pernikahan.”

Muhammad Yamril, wartawan Plat Merah Kementerian Agama sempat berbincang terkait waktu berolah raga. Dia katakan,

”Di sini waktu berolahraga hanya ada saat liburan, itupun dengan mengendarai bus untuk sampai di lapangan. Dulunya ada tempat berolah raga dekat kampus, namun saat ini telah dibanguni apartemen dan menjadi tempat tinggal imigran dari Syiria.” Ujarnya.

Anak kita Muhammad Imran di Turki seasrama dengan beberapa penuntut ilmu yang berasal dari negara lain. Di antaranya ada yang berasal dari Negeri Inggris dan juga Afrika, bahkan sampai Amazon. Sebagai orang pendatang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menuntut ilmu karena mengharapkan ridha Allah, persaudaraan di kalangan mereka sangat terasa. Menurutnya, seakan satu keluarga, sebagaimana yang dilukiskan oleh Nabi Saw. sebagai satu jasad.

Saat masih berada di Indonesia, persaudaraan itu seakan masih sebatas pertemanan. Namun di tempat ini, persahabatan dan persaudaraan itu betul-betul terasa.” Ungkapnya.

Anak kita ini juga adalah kader Yayasan Rumah Quran Kepulauan Selayar yang diharapkan dapat kembali ke Kepulauan Selayar untuk memperkuat pendidikan ke-agamaan. Saat dikonfirmasi terkait rencana ke depannya, diapun berkata,

ada keinginan untuk konsentrasi agar dapat Khatmul Kubra sebagaimana teman yang berasal dari Malaysia. Apalagi seiring dengan ada penawaran supaya dapat mengabdi di Turki sebagai pelayan pondok.”

Dalam tradisi Sulaemaniyah, semua santri diharapkan dapat ditempatkan di mana dan kapanpun untuk kepentingan agama Allah Swt. menurutnya, insya Allah dengan doa dan ridha dari guru, maka seseorang itu akan terus peroleh keberkahan dari Allah Swt. jelasnya kepada Kami saat wawancara. (Myr)

 

 


Sumber
Penulis : Muhammad yamril

Baca Juga