Kakankemenag Selayar Hadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Warga Nahdhiyyin

  • May 10, 2021, 3:53 a.m.

-

 

Kepulauan Selayar (Humas Kemenag) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Selayar, Dr. H. Nur Aswar Badulu, M.SI menghadiri acara Peletakan Batu Pertama Masjid KH.  Hasyim Asy’ari yang berlokasi di Jalan masuk Perumahan Selayar Residence Parappa  Kecamatan Bontoharu. (Ahad, 09/05/2021)

Masjid tersebut adalah masjid pertama yang dimiliki oleh Warga Nahdatul Ulama di Kepulauan Selayar, maka oleh sebab itulah masjid ini juga dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu KH, Hasyim Asy’ari.” Ungkap H. Mustari, Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama kepada salah seorang staf Kementerian Agama.

Menurut H. Patta Bone, Ketua Pembangunan Masjid KH. Hasyim Asy’ari, masjid yang berdiri di atas tanah 20 x 30 mtr adalah merupakan tanah hibah dari salah seorang warga Nahdhiyyin, Hj. Nurhayati. Badan masjid yang rencananya 12 x 13 meter plus 2 meter lebar teras diperkirakan akan menelan dana kisaran Rp. 750.000.000.

Mustari juga menambahkan bahwa Masjid KH. Hasyim Asy’ari rencananya akan difungsikan untuk berbagai kegiatan ibadah, baik ibadah mahdah maupun ibadah sosial. Dalam pandangannya, warga nahdhiyyin yang ada di Kepulauan Selayar juga perlu difasilitasi dengan masjid di mana di dalamnya mereka juga bisa melakukan dan mengamalkan hal-hal yang  sudah menjadi tradisi NU. sebagaimana yang lazim terjadi di Pulau Jawa.

Turut hadir dalam acara peletakan batu pertama Wakil Bupati, H. Saiful Arif, Sekretaris Daerah, Ir. H. Marjadi Sultan, Ketua Majelis Ulama Indonesia, H. Ridwan, Kepala Kantor Kementerian Agama, Dr. H. Aswar Badulu, Ketua PCM Nahdatul Ulama, H. Mustari, tokoh masyarakat, dan warga nahdhiyyin.

Saiful Arif dalam sambutannya sangat berharap agar nantinya masjid ini dapat melaksanakan perannya dengan baik. Dia difungsikan oleh warga masyarakat dan juga warga nahdhiyyin untuk berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan dan sosial.

panitia masjid harus mampu melakukan berbagai terobosan untuk menggalang dana ummat. Harus banyak kreasi. Perbedaan infak dan sedekah adalah infak itu terbatas dengan materi sedang sedekah meliputi segala hal yang dapat diberikan; materi, tenaga, waktu, dan lain-lain. Ada orang yang dapat memberi dengan materi namun juga ada orang yang hanya dapat memberi dan bersedekah dengan waktu dan tenaganya.” Ungkap Saiful Arif untuk memotivasi para warga yang hadir.

Saiful Arif juga mencontohkan dengan salah satu masjid muhammadiyah yang diratakan dan kemudian dibangun ulang atas swadaya masyarakat di salah satu desa yang terletak di Bontosikuyu. Masjid itu lebih indah dari sebelumnya. Namun menurutnya, yang luar biasa adalah bahwa di kalangan warga ada yang berpartisipasi dengan materi, ada yang dengan tenaga, ada yang dengan ilmu, ada yang dengan keahlian, dan juga ada yang memanfaatkan jaringan yang dimilikinya. Semuanya berkumpul menjadi satu dan akhirnya masjid itu kembali berdiri dalam waktu yang tidak terlalu lama. (Myr)


Sumber
Penulis : Muhammad yamril

Baca Juga